Di ambil dari Arsip milis ADENIUMANIA@yahoogroups.com oleh :
Tharie Wie
www.omahijo.com
Rekans, untuk catatan : koteledon (2 “daun” pertama) sebenarnya bukan daun sejati, namun merupakan cadangan makanan bagi pertumbuhan benih adenium.
Agar ada kesepakatan istilah dan memudahkan dalam mencari penyebab kasus dimaksud, mungkin ada baiknya kita amati sejenak proses pertumbuhan benih adenium
Lihat gambar terlampir, point (a) s/d (g), maaf kurang bagus tapi cukup bisa memberi gambaran proses pertumbuhan benih adenium.
- Hari 1 s/d 2 sejak penanaman, benih adenium terlihat membengkak karena hidrasi air. Gambar (a)
- Hari 2 atau ke 3, muncul radikel, calon akar yang tumbuh ke bawah menembus lapisan tanah. Gambar (b).
- Hari ke 3 s/d 4, hipokotil muncul dan nampak memanjang ke arah permukaan tanah dari bagian atas radikel. Gambar (c)
- Hari ke 3 atau 4 s/d 5, pemanjangan hipokotil berlanjut hingga terbentuk bangun semacam “busur” atau “kait” (hyocotyle arch), dan mulai mendorong/menarik benih yang berisi koteledon ke atas permukaan tanah. Tahap ini sering disebut “crook stage”. Gambar (d) dan (e).
- Hari ke 5 s/d 7, busur hipokotil menjadi lurus (straighten) dan menarik kotelodon muncul kepermukaan tanah. Inilah yang dimaksud pertumbuhan benih adenium bersifat “epigeal germination”, koteledon tertarik/terdorong muncul keatas permukaan tanah. Gambar (f). Pada saat ini, boleh jadi kulit pembungkus benih tanggal/terkelupas dan tertinggal di tanah, atau bisa juga kulit benih masih menutupi koteledon.
- Setelah muncul ke permukaan tanah, koteledon akan membuka/mengembang dan nampak seperti “daun” hingga epikotel dan meristem pucuk (SAM = shoot apical meristem) terekspos. Mekarnya koteledon membuat kulit pembungkus benih tanggal. Gambar (g).
- Daun sejati (ada yang menyebut daun ke 3 atau 4) akan tumbuh dari SAM (diatas koteledon), 4 – 7 hari setelah mekarnya (unfold) koteledon.
Beberapa kejadian penting yang perlu mendapat perhatian dalam pemyemaian benih adenium :
- Pemunculan semai (keluarnya radikel) terjadi setelah seluruh bagian benih menyerap air /imbibisi air menyeluruh (Went Fritz, 1982,). Penyiraman hingga basah pada awal penyemaian akan mempercepat laju imbibisi. Artinya akan mempercepat keluarnya semai.
- Media tanam yang keras, lengket, dan kurang lepas-lepas, akan menimbulkan hambatan fisik yang mengganggu pemunculan koteledon. Akibatnya, busur hipokotil makin membengkok, pemunculan koteledon ke permukaan tanah butuh waktu lebih lama. Efeknya koteledon dapat menjadi busuk, mudah tanggal, dan semaian jadi kurang vigor (Ritchie Glen L., et al, 2004)
Intensitas cahaya matahari (merah jauh dan merah) serta temperatur berpengaruh pada kecepatan proses pelurusan hipokotil, membuka/mekarnya koteledon, dan ukuran panjang hipokotil (Rina W., 2006). Keterlambatan proses tersebut di atas dapat menyebabkan koteledon rentan busuk, lemah dan mudah rapuh/tanggal.
Sehubungan dengan kasus “tumbuh batang tok”, pertanyaan yang dapat diajukan adalah apakah koteledon selama ini memang benar tidak pernah ada/muncul atau pernah muncul tapi kemudian rontok/busuk ?
Bila koteledon tidak pernah muncul, jawabnya ada peristiwa “mutasi”. Tapi saya kok ragu ya. Saya lebih yakin bahwa koteledon pernah muncul tapi kemudian busuk/rontok.
Perhatikan pada bagian ujung tanaman, adakah dijumpai SAM (gambar ( i dan j )) ? Bila ada, kemungkinan tumbuh daun masih dimungkinkan. Bila tidak terdapat SAM, ada kemungkinan besar seedling akan mati karena tunas adventip pada tanaman seumur itu tanpa ada koteledon sulit tumbuh.
Ketiadaan SAM bisa karena ikut rontok bersama rontoknya koteledon, atau karena ada peristiwa “mutasi” yang dikenal sebagai “SHOOT MERISTEMLESS”. Selama ada koteledon, meski tanpa SAM, tetap ada kemungkinan tunas adventip dapat tumbuh. Hal ini banyak dilakukan orang untuk menghasilkan seedling rumpun, dengan memotes/menghilangkan SAM.
Coba pak Kun hitung berapa % yang tumbuh tanpa daun dalam semaian tersebut. Bila ada lebih dari 10 % kemungkinan besar bukan mutasi penyebabnya. Bisa jadi karena ada sedikit kesalahan dalam penyemaian, atau karena ada masalah kualitas benih.
Demikian semoga bisa menjawab dan bermanfaat. Maaf agak panjang.
Sebelum lupa, sebagai tambahan :
- Nutrisi yang terlalu tinggi pada media semai dapat menyebabkan seedling terkena “damp – off” serta ekstra pemanjangan hipokotil (Miller, Joan H., et al , 1995, Organic and compost-Based growing media for tree seedling nurseries, WORLD BANK TECHNICAL PAPER NUMBER 264 FORESTRY SERIES, The World Bank, Washington, D.C)
- Sinar matahari is a must untuk dapat menghasilkan seedling adenium yang proporsional. Besar kecilnya intensitas cahaya matahari memberi perbedaan rata-rata panjang hipokotil adenium sebesar 1,6 cm dengan SD 1,9 mm (Rina W., 2003, Pengaruh cahaya merah dan merah jauh pada pemanjangan hipokotel Kamboja Jepang, Fak. Biologi, UGM). Makasih mbak Rina boleh ngutip tulisannya.
Tharie Wie
www.omahijo.com
- 341 reads
- Printer-friendly version
- Send to friend

Recent comments
34 weeks 6 days ago